Menghadapi Rasa

13 April 2017,

Saya mendengar dia akan resign dari kantor tempat dimana kami bekerja, tempat dimana kami bertemu, dan tempat dimana saya menumbuhkan rasa padanya.

Sebelum saya mendengar kabar tersebut, saya sudah merasakannya terlebih dahulu melalui bunga tidur yang datang pada malam H-1 kabar itu akan dilayangkan.

Dalam mimpi itu saya melihatnya mengenakan pakaian kerja, raut wajahnya nampak berbeda. Ada kesedihan mendalam di sana. Tatapan sendu itu.. sangat terlihat jelas. Dia memilih duduk menyendiri di salah satu tangga sambil menatap kosong ke arah dimana ada saya dan teman-teman lainnya.

Ketika saya terbangun dari mimpi, saya sempat bertanya-tanya “Ada apakah? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saya memimpikannya? dan kenapa hati ini menjadi sesak dan tak menentu? Apa saya terlalu memikirkannya sampai terbawa ke mimpi? Mungkin saja iya” begitu banyaknya senarai pertanyaan di pagi hari yang belum bisa terjawab dan hanya melambung di udara.

Pagi menjelang siang itu saya jalani sebiasa mungkin tanpa memperhatikan kegusaran hati, dan tepat pukul 15.30 saya mendengar kabar dia akan resign.

“Sabar ya fan..” ucap mbak Ayu mencoba memberi kekuatan padaku.

“Insyaallah kuat mbak kalo cuma resign tapi aku nggak akan siap kalau kamu bilang dia mau nikah atau dia mau tunangan. Aku gak akan siap buat kabar itu dan bisa aku pastikan aku gak akan datang di acaranya. Akan terasa konyol kan kalo aku datang trus pas salaman aku tiba-tiba nangis, pasti akan nimbulin tanya orang sekitar ‘ini anak kenapa nangis? Kan gak punya hubungan apa-apa, mantan bukan bahkan pacaran gak pernah, cuma sebatas teman kerja aja kan?’ Aku masih coba buat bertahan dan menangguhkan hati untuk menghadapi kejutan-kejutan lain dari dia” curhatku.

Tak lama setelah percakapan itu, saya ingin berjalan ke kamar mandi tapi di tengah perjalanan aku bertemu dia dari jarak 5 meter. Seketika hati saya bagaikan dihantam 2 tembok berduri. Tubuh saya serasa tak memiliki aliran darah dan tenaga, kaki saya ingin merosot ke lantai saat itu juga kalau saja saya tidak secepat mungkin memegang kursi sebagai pegangan atau lebih tepatnya sumber aliran kekuatan saya untuk tetap berdiri tegak. Mata saya mulai memanas, ingin rasanya menangis namun sulit mengeluarkan air mata. Entah..

Saya hanya bisa mengucapkan “Mbak Ayu…” yang diikuti tatapan penuh tanya sang pemilik nama.

Secepat mungkin saya menggeleng “gak papa mbak” jelasku kemudian.

Waktu merambat..

– – – – – – – – – – – – – – –

21 April 2017,

Dia mengucapkan salam perpisahan. Untungnya hati saya sudah saya persiapkan dengan baik, tapi namanya juga rasa tidak akan bisa dibohongi. Saat dia mengucapkan salam pisah pada teman-teman, saya menghindar dengan menyibukkan diri bersama tumpukan berkas. Sebelum dia mencapai meja saya, saya harus segera kabur. Tidak ada kata perpisahan. Tidak!!.

Egois? Mungkin. Saya hanya sebisa mungkin membuat benteng kekuatan hati, supaya gak nangis atau pelupuk mata ngecembeng. Saya melihatnya sudah menjauhi meja kerja saya. Lega. Saya kembali duduk. Tapi siapa sangka dia berbalik arah ketika melihat saya dia langsung menghampiri. Stop. Stop di situ!!!.

Yakk.. tibalah dia di depan saya. Sebisa mungkin saya terlihat cool, padahal dalam hati udah pontang panting dan main salto.

“Fan.. aku mau pamit”

“Udah mas.. udah..”

Saya harap dia gak ngomong panjang-panjang, eh masih diterusin.

“Aku resign udah gak di sini lagi. Ini hari terakhirku” sambungnya.

Mata udah panas Yaa Allah Yaa Rabb.. tapi saya coba buat senyum, buat ketawa seolah saya gak kenapa-kenapa.

“Haha.. udah mas.. udah.” Jeda. Mencoba menetralisir pikiran dan hati biar tetep sinkron.

“Harus ya mas pamitan sekarang?”

“Loh kalo gak pamitan gimana?”

Dia terlihat berpikir sejenak, saya masih menyunggingkan senyum. Dia sekarang berdiri tepat di sampingku.

“Kenalin ini yang akan gantiin aku”

Sekilas saya melihat wajah yang akan menggantikan ‘mas Be’. Dia memperkenalkan diri tapi saya nggak denger dia menyebutkan siapa namanya, jujur saya sibuk sama gejolak diri.

“Fany” ucapku kemudian masih dengan senyum sebaik mungkin.

“Fan.. pamit ya” tiba-tiba ‘Mas Be’ mengulurkan tangannya untuk menjabatku tapi dengan sangat sopan saya langsung menangkupkan kedua tangan. πŸ™

‘Maaf mas, aku memang mau menyentuhmu atau kalo boleh pengen meluk mungkin untuk pertama dan terakhir kali. Tapi aku gak bisa, aku harus jagain kamu. Walau aku ingin sekalipun’ batinku.

“Lho sekarang gitu?”

“Hehehe..” saya cuma ketawa aja.

“Aku minta maaf kalo aku ada salah sama kamu, Fan”

Belum sempat jawab ‘iya’ udah disambung lagi.

“Ya aku akuin salahku ke kamu banyak. Aku minta maaf buat semua yang udah terjadi. Aku minta maaf” dia menangkupkan kedua tangannya. Hanya kata itu yang saya dengar. Kata lainnya seolah ter-skip dari pendengaran saya.

Saling tatap. Ada kesedihan dan penyesalan di wajahnya, menurut saya. Stop. Saya tidak ingin berspekulasi jauh. Kesedihan itu sama persis seperti yang ada di mimpi saya.

Mungkin dalam tatapan itu kami saling berbicara pakai bahasa mata, tapi saya gak tau arti tatapan dia haha..

Ada serangkaian kata yang ingin diucapkan, namun apalah daya bibir ini. Membukanya saja, tak sanggup.
Jika memang ada sesuatu yang tidak seharusnya untuk diucapkan atau terlalu sulit dikatakan, biarlah menjadi rahasia. Cukuplah kita mengerti dan pahami saja.
Saya menelusuri setiap garis lekuk wajahnya yang  saya yakini nggak akan ditemuin lagi tiap hari di kantor. Gak bisa saya cari-cari lagi masuk enggaknya dia. Saya merasa itu terakhir kali saya bakal melihat dia. Kilatan masa lalu bersama dia bagaikan slow motion di pikiran saya.

Memang kami tidak punya ikatan atau hubungan apapun selain teman kantor, tapi jangan salah. Ada sedikit banyak kenangan bersama dia, selama saya kenal ‘Mas Be’ (next, mungkin saya akan cerita. Jika dirasa pas). Mataku mungkin udah agak ngecembeng.

“Mas.. semoga di tempat yang baru-” saya coba membuka kalimat pembuka, karna cukup lama kami berdiam dan hanya saling tatap.

“Wes cukup Fan” dia mundur selangkah sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Iyo aku paham. Aku tau doamu buatku pasti bagus-bagus. Terimakasih ya buat semua.. semuanya” dia sambil bungkuk-bungkuk gitu.

Saya tau mungkin dia bersikap seperti itu karna dia udah liat saya ngecembeng, sekalipun saya tersenyum.

‘Terimakasih juga mas, kamu udah pernah hadir dalam hidup dan hati saya. Terimakasih sudah mengizinkan saya mengenal kamu. Membuat kenangan sama kamu, sederhana namun bermakna dan akan slalu saya ingat dalam memori jika nanti saya rindu kamu. Semoga Allah selalu memberimu bahagia dan menjagamu, aku titipin kamu sama Allah mas. Aku percaya kamu akan baik-baik aja’ ucapku dalam hati disertai tatapan terakhir untuknya.

Lagi melow-melow gini tiba-tiba temen saya ada yang nyeletuk.

“Jangan nangis Fan..”

Seketika saya sadar.

“Iya mas, sama-sama. Yaudah sana.. hehe” bener-bener nyuruh dia pergi ya, haha..

Sampai rumah, gak nangis lho. Hehe πŸ˜… masih terkontrol.

– – – – – – – – – – – – – – –

24 April 2017,

Entah semalam saya bermimpi apa, pagi itu saya bertemu dengannya ketika selesai memarkirkan motor. Saya melihatnya memasuki halaman kantor bersama motor merah kesayangannya.

‘Ngapain? kan dia udah resign. Oh, paling cuma absen doang’

Saya melangkahkan kaki menuju ke tempat absen dan saya melihatnya sedang berdiri bersama 2 orang (1 laki-laki yang saya ketahui bernama Mas Huda karena satu bidang dengan kami  dan 1 lagi perempuan, saya lupa namanya karna dia beda bidang tapi saya tau bahwa dia adik kelas Mas Be sewaktu kuliah), mengobrolkan sesuatu yang terlihat sangat asyik.

Saya hanya melintasinya saja, tanpa berani melihat atau pun menyapa.

Setelah selesai absen, saya pikir dia sudah pergi nyatanya dia masih di sana.

Sebaik dan secepat mungkin saya berjalan, namun saya mendengar sayup-sayup suara. Seperti suaranya memanggil saya.

“Fan..”

Langkah saya terhenti, tubuh pun menjadi kaku.

Saya nggak berani..

Tapi tetep aja saya noleh dan memasang wajah baik yang pernah saya miliki.

Saya tersenyum.. riang sambil melambai-lambaikan tangan.

Seolah waktu berhenti..

Dia seperti tertegun menatap saya namun ku lihat bibirnya masih mengucapkan kalimat pada teman kami.

Ada sebuah rasa yang muncul ketika saya melambaikan tangan untuknya.. rasa lega, bahagia, dan mungkin ikhlas melebur menjadi satu.

Tak lama kemudian saya melanjutkan langkah.

Pada saat itulah saya sadar bahwa sedari tadi saya menahan nafas, kemudian saya meraba tangan yang mendingin.

– – – – – – – – – – – – – – –

28 April 2017,

Dua minggu setelah dia pamit, saya bertemu dia lagi di kantor. Saya masih melihat wajah sedihnya. Entah dia sedih kenapa. Saya nggak mau banyak nerka-nerka.

Kalau berharap nanti jatuhnya sakit.

Saat itu kami semua yang di kantor udah siap-siap mau pulang. Dia ikut pulang juga.

“Aku ambil tas dulu di atas”

Saya pikir sih dia bakalan lama di atas, ternyata enggak. Tiba-tiba udah di samping aja.

“Fan..” panggilnya.

Noleh ke dia. Natap dia. Baru nanya “Ada apa mas?” sambil nampilin senyum terbaik bahwa semua baik-baik aja selama dia juga baik. Haha..

Sebelum dia ngomong, ada yang nanya duluan ke dia.

“Lho wajahmu sedih kenapa?”

“Fany sedih mbak..” ucapnya.

Hanya angin lalu. Saya menganggapnya begitu. Saya teruskan laju langkah kaki, berusaha menghindari.

“Gimana kabar kamu sama A (pacarnya)”

Saat itu saya benar-benar menulikan telinga. Nggak denger apa-apa.

Takut keiris. Hahaha…

Gak nangis lho ya.. masih aman.

– – – – – – – – – – – – – – –
30 April 2017,

Posisi saya sedang di Batu. Ketika saudara saya meminta tolong untuk mencarikan photographer wedding acaranya yang berlangsung tanggal 27 Agustus 2017 mendatang (minta doanya semoga acara Mbak Rista diberi kelancaran sampai hari H dan selamanya menjadi keluarga sakinah mawardah warahmah sampai maut memisahkan. Aamiin..).

Saya bingung tuh siapa? Tiba-tiba terlintas dipikiran oh iya ‘Mas Be’ kan dia jago banget nih di dunia photography. Masa saya ngehubungin duluan?. Ya udah deh gpp coba aja.

Udah.. berupa chatt aja haha.

Gak bikin nangis kok ini.. asli πŸ€—

– – – – – – – – – – – – – – –
8 Mei 2017,

10 hari setelah pertemuan tak terduga, kini kau hadir kembali.

Sehari yang lalu aku ngimpiin dia, entah mimpinya apa. Lupa, hehe.. 

Kami berjumpa kembali. Namun tak ada sapa dan tatap. Walaupun kata Mbak Ayu dia natap saya waktu keluar ruangan (ah itu membesarkan hati saya aja, ya kan mbak? xixi..).

Memang ada yang kurang lengkap setelah dia pergi, saya gak mau ambil pusing hal itu.

Menjelang ashar saya sempet seklebatan mikirin dia, sibuk merangkai ekspektasi tentangnya kalau-kalau dia main ke sini. Hingga waktu menunjukkan pukul 18.00 mungkin lebih, tiba-tiba aja Mbak Ayu meneriakkan namanya.

Refleks, saya clingak-clinguk menatap keluar ruangan. Tapi yang diteriakkan namanya nggak kelihatan.

‘Ah Mbak Ayu ini suka becanda, gak tau apa kalo hatiku langsung gak menentu’ runtukku dalam hati dan sibuk lagi dengan berkas.

Tiba-tiba ada satu suara lagi.. meneriakkan namanya.

“Kamu ngapain di sini?”

Gerakkanku terhenti, berkas aku geletakkan begitu saja.

Mendengar namanya disebut sudah membuat hati saya langsung mencelos, nyali jadi ciut, dan tangan berubah dingin bagaikan di kutub.

Saya dengan sigap mengambil jaket dan tas, memasukkan dengan cepat barang-barang yang perlu dibawa pulang.

Saya bener-bener gak ada nyali buat ketemu, saya berusaha berkelit sama rasa yang ada.

Biasanya kalo saya buru-buru pasti ada satu atau dua barang yang ketinggalan. Tapi ini Alhamdulillah gak ada yang tertinggal, cuma perasaan aja yang masih tertinggal di belakang mwahaha..

Suaranya sayup-sayup terdengar.

Getaran hebat di dada itu kian bergemuruh.

Saya merindukan suara itu. Ya. Saya rindu dia 😒

Saya pingin nangis saat itu juga. Meluapkan.. menumpahkan segala emosi yang sudah lama saya pendam.

Cool.. cool.. tapi tangan udah dingin banget, tubuh bener-bener kaku buat mencerna situasi yang serba dadakan ini.

Yaudah saya melenggang santai aja pulang.. gak sempet lihat dia, aku cuma denger suara dia yang lagi khusyuk jelasin sesuatu sama temen.

Di jalan saya nyanyi..

Namun tiba-tiba kau ada yang punya,

Hati ini terluka..

Sungguh ku kecewa..

Inginku berkata, 

Kasih maaf bila aku jatuh cinta

Maaf bila ku suka.. saat kau ada yang punya

Haruskah ku pendam rasa ini saja? 

Ataukah ku teruskan saja? 

Hingga kau meninggalkannya..

Dan kita bersama.. 

Akankah ada kesempatan,

Untuk diriku mengatakan rasa yang selama ini ada???

Menghadapi Rasa

Berkali-kali saya ulang mulai dari keluar kantor sampai rumah. Terus wajah dia tiba-tiba muncul gitu.. drama deh.

Ini udah ngecembeng di jalan, hatinya udah morat-marit juga.

Sampai di kamar 10 menit aman, tapi pas buka amplop coklat lamaran kerja temen saya trus hati nyanyiin lagu HiVi – orang ketiga, byarrrr..

Runtuh sudah pertahanan saya mencoba menjadi sosok yang kuat dalam menghadapi rasa.

Benteng pertahanan saya berhasil diluluhlantakkan oleh sebuah rasa.

Saya bersimpuh di lantai, menumpahkan segalanya..

Saya menangis sejadi-jadinya.

Saya berharap semuanya akan kembali baik setelah saya menangis.

“Saya ikhlas.. saya ikhlas..”

Iya saya ikhlas mas, kamu sama yang lain. Asal kamu bahagia aja mas.. asal kamu seneng.. asal kamu baik-baik aja, itu semua udah cukup buat saya.

“Saya harus kuat.. saya kuat.. gak boleh lemah sama rasa ini”

Dalam tangisku.. sayamencoba bangkit dan menghapus air mata.

Saya tersenyum lagi walau di dalam ku tau ada luka..

Tapi saya mencoba sebiasa mungkin..

Mas Be.. seringkali rindu datang mengetuk hatiku,

Ingin ku menanyakan kabarmu,

Bagaimana kamu di sana?

Apa saja yang kau lakukan?

Apa kegiatanmu?

Namun ku sadar diri, siapalah aku

Di sana.. mungkin di hatimu..

Kekasih hatimu lah yang berhak menanyakan semua itu

Bahkan berhak merindukanmu sedalam yang dia mau

Saya bukanlah siapa-siapa yang mencoba menghadapi rasa

Rasa padamu..

Saya bukanlah siapa-siapa yang mencoba membangun benteng pertahanan ‘tuk menangkis segala rasa

Rasa padamu..

**

Mas Be.. pintaku kepada Allah Sang Maha Pencipta Langit, Bumi, dam seisinya cuma satu: Berikanlah kebahagiaan buat Mas Be dan lindungilah Mas Be dimanapun dia berada.

Insyaallah mas.. kamu slalu dalam lindungan Allah dan slalu diberi kebahagiaan.

Ingat mas, bahagiamu.. bahagiaku juga.

Sedihmu.. akan menorehkan luka di hatiku mas..

Sampai jumpa mas, bila waktu masih memihak.. bila ada cerita kita yang mungkin belum tuntas, bila ada kata yang belum sempat terucapkan..

Semoga Allah mempertemukan kita kembali di waktu yang pas dan di lembar yang baru.

Namun jika semua sudah tuntas, biarlah ku hanya bisa mengenangmu.. merindukanmu.. dan mungkin perlahan menghapusmu semampuku

Janji tetaplah janji mas, saya memegang teguh janji itu. Membiarkanmu menikah terlebih dahulu, barulah saya akan mencari penggantimu dan menyusulmu. Karna itulah akhir kisah antara saya dengan kamu..

Saat ini, jangan paksa saya untuk mencari penggantimu selama saya belum sanggup menghadapi rasa ini.

Kalau pun suatu hari nanti saya dipertemukan dengan seseorang yang mampu menjatuh cintakan hati saya, saya berharap nggak akan ketemu kamu lagi dalam beberapa kurun waktu yang lama.

Kenapa?. Karena saya takut, perasaan saya akan memihak kamu lagi.

Sudah 2 kali saya memilih untuk stuck on you.

 

Tertanda,

Orang yang slalu menjagamu dalam doa


NB: ilmu tertinggi di dunia ini adalah ikhlas, jadi ikhlaskanlah segalanya.. tersenyumlah, seberat apapun itu. Serahkan semua pada Sang Maha Pencipta. Karna seaungguhnya skenario terbaik ada ditanganNya. – @tdmff

Drama Uber (2)Β 

Selang beberapa hari setelah diceritakannya pengalaman Mbak Ayu, tepatnya hari Jumat tanggal 14 April 2017 jam 05.15. Hari itu saya akan pulang ke kampung halaman, Semarang (yayy😍) naik kereta Maharani jam 06.00 dari St. Pasar Turi. 

Rencana awal, saya minta tolong sama temen kost (Lely) buat nganterin saya ke stasiun. Tapi Tuhan berkehendak lain, pada saat itu cuaca tidak mendukung. Sejak subuh hujan deras melanda daerah Surabaya. Perasaan saya sedikit resah. 

“Fix, saya naik uber aja. Gak jadi kamu anterin Lel” 

“Udah pesen uber mbak?” 

“Udah kok, 5 menit lagi dia sampe” *sambil lihat foto sopir uber* 

Tak lama kemudian, sopir uber itu telpon di henpon saya untuk mengkonfirmasi pemesanan. Tak membutuhkan waktu lama buatnya untuk sampai ke kost saya. 

Tiiin.. 

Dia membunyikan klakson mobilnya. Saya keluar dengan tas ransel tercangklong manis di pundak dan menenteng botol minuman. Saya buka pintu mobil itu dan bergegas ambil posisi duduk ternyaman.

“Tujuannya ke stasiun pasar turi ya mbak?” 

“Iya pak, minta tolong agak cepetan dikit ya pak. Soalnya saya kejar berangkatnya kereta jam 6”

“Wahhh.. oke mbak kalo gitu. Enaknya lewat mana nih mbak?”

“Terserah bapaknya mau lewat mana karna setau saya dari sini jalannya cuma lewat Genteng itu”

“Lurus bisa mbak?” (Maksudnya jalan lurus, dikira ada gang yang bisa dilalui)

“Gak bisa pak, harus mundur” 

####$$$$#######

Selama di perjalanan, sopir uber yang saya panggil Bapak itu (karna di foto kelihatan sudah tua, maaf. Saya juga waktu itu gak begitu perhatian sama dia juga, sibuk lihat jalanan) mencoba membuka pembicaraan dengan saya. 

Jujur sih waktu itu saya masih agak ngantuk, mood saya lagi gak bagus, and then saya jawab pertanyaan sopir uber ya sekenanya. 

“Kok jam segini mau naik kereta, memangnya kemana mbak?”

“Pulang kampung pak”

“Oh.. dimana mbak?” 

“Semarang”

“Berarti di sini ngekost?”

“Iya” 

“Sudah berapa lama di Surabaya mbak?”

“2 tahun. Bapak berapa lama di uber?”

“Baru 10 bulan” 

Saya diem dan masih asyik menikmati jalan. 

“Pak, kalo nanti saya diturunin persis di area cetak tiket bisa kan? Soalnya jamnya udah mepet”

“Bisa mbak, yang gak bisa itu kalo jemput di dalem stasiunnya”

“Kenapa gak bisa?”

“Karna di situ banyak premannya mbak, temen saya pernah kena. Jemput di dalem, karna yang pesen ibu-ibu dan dia gak mau keluar dari area situ dengan alasan jauh plus barang bawaan yang banyak. Akhirnya temen saya nekat masuk eh malah ban mobil empat-empatnya dikempesin” 

“Wah.. sadis bener. Denger-denger sekarang kalo jemput harus di daerah pom bensin?”

“Betul mbak, tapi pom bensin masih maju lagi sekitar 100 meter”

“Pom bensin aja udah jauh apalagi ketambahan 100 meter dari pomnya, kaki bisa linu-linu” 

“Ketentuannya sudah begitu mbak. Di Jakarta aja kemarin banyak yang di komplain mbak karna menyalahi aturan perbatasan”

Tiba-tiba saya keinget sama berita yang di Yogyakarta mengenai adanya kendaraan online yang akan dihapuskan.

“Di yogyakarta juga pak, katanya mau dihapus. Padahal itu kan lapangan pekerjaan dan buat nambah-nambah penghasilan. Kasihan dong kalo dihapus, nanti banyak yang nganggur dan tindak kejahatan semakin menjadi” 

Nah memasuki pembahasan ini, omongan saya mulai cus ces pleng. 

“Kalo mau pesen online harus hati-hati mbak, caranya di dalem stasiun mbak pesen tuh. Trus mbak catet nomor orangnya, di off paketannya dan smsan aja. Biar nggak ketahuan. Rata-rata zaman sekarang kan henponnya android semua, kalo henpon biasa pasti gak akan curiga. Nanti kalo jemput bilang aja itu oomnya atau bapaknya gitu”

Saya sih cuma mangut-mangut aja. Karna mood saya balik lagi ke down dan mulai jawab sekenanya tapi masih menghormati. 

“Sudah kerja atau masih kuliah?” 

“Sudah kerja” 

“Dimana?” 

*kali ini saya sedikit mikir, kok kepo sih. Tapi berhubung sudah terlanjur ngobrol yaudah saya jawab aja akhirnya* 

“Daerah sedap malam” 

“Dimananya? Pabrik?”

“Sejenis itu pak” 

“Sudah berkeluarga?”

“Belum” *dalem hati ngomong minta doanya aja* 

“Tadi nomor henpon mbak yang asli?”

“Iya pak”

“Nama mbak beneran Tiffany?” 

“Iya pak” 

“Saya boleh ngesave nomornya mbak?”

“HAH?? Apa pak???” 

“Saya kan masih single loh mbak, jangan dipanggil bapak. Mbaknya kan juga masih single, saya simpen nomor hapenya ya mbak. Nanti kita bisa berkenalan lebih lanjut, saya masih muda kok mbak” 

Seketika mata saya langsung tertuju pada rambutnya. 

‘OMG.. Dia udah ubanan coyyy’ 

Demi apa, rasanya seperti dihimpit dua tembok sekaligus disambar petir. Mulut saya cuma bisa mangap-mangap doang kayak ikan koi yang kehabisan air.

Kemudian saya lihat dari kaca mobil, dia ngedipin matanya. 

‘ALLAHUAKBAR..LAA ILLA HA ILLAALLAH.. SUBHANALLAH..’ mimpi apa saya semalem sampai mengalami hal seburuk ini, disepik sopir uber?. Detim itu pula saya baru percaya cerita-cerita di drama uber yang ulala banget. 

Ada rasa takut sekaligus was-was sama nih sopir uber. 

1) Takut tiba-tiba diculik, dibawa ke tempat sepi (apalagi itu masih jam 05.15 lho, jalanan belum rame) trus terjadilah hal-hal yang menakutkan.

2) Saya nyesel kenapa pergi sendirian.

3) Dia kan tahu kos saya, nanti kalo tiba-tiba kost saya di satroni sama dia gimana? Trus saya dibuntutin dia? Kan nakutin.. Nyesel lagi, kenapa tadi minta jemput di depan kost. Kenapa gak di depan alfamart aja sih atau kalo perlu depan gang sekalian?? 

Holy shit, rasanya pengen nelen radiator detik itu juga. Pengen cepetan turun dari mobilnya. 

Gak lama akhirnya sampe juga di stasiun, dia nurunin saya tepat di area cetak tiket. Waktu nyerahin uang, asli saya gemetaran. Karna ketakutan. Baru pertama kali ini saya disepik sopir uber. Saya belum siap kalo terjadi apa-apa, pliss jangan sampe. NAUDZUBILLAH MINDHALIK. Karna saya jauh dari orangtua. 

Setelah turun dari mobilnya, saya bergegas ke mesin pencetak tiket sambil nenangin diri. Berlanjut ke boarding pass dan naik ke kereta, cari tempat duduk terus baca buku La Tahzan yang sempat saya bawa dari kost. Karna buku itu sampe sekarang belum tamat, pengen saya tamatin di kereta. 

Pas ditengah-tengah perjalanan, henpon saya bunyi. Menunjukkan ada WA masuk dan kebetulan saya setting WA jadi pop up, tanpa saya buka udah kelihatan duluan chattingnya. 

Sungguh diluar kewarasan saya.. WA itu dari sopir uber, bikin saya kehilangan napas sesaat. 

Begini WA nya: 

Iya sih memang cari yang dewasa, imuts, menggemaskan, dan peluk-able kayak Gong Yoo (siapa dia? Itu lho pemain goblin sebelumnya di Train to Busan dan sebelumnya lagi di Coffee Prince, aktor korea yang hits itu lhooo..) gitu yang ahjussi rasa oppa a.k.a oom-oom rasa mas-mas, tapi gak yang oom-oom tua-tua keladi gini jugak kelesss 😣😣 Mungkin doa saya yang salah. Maafkan saya Tuhan… saya sempat khilaf. 

Well, saya masih menghormatinya. Dengan perasaan takut dan was-was, saya balas WA nya 1 jam kemudian dengan ucapan: terimakasih. 

Itu sudah lebih dari cukup bukan? 😊

Drama Uber (1)

What the drama uber?.

Okey, saya akui bahwa saya ini ((agak)) kudet gitu. Pertama kali saya dengar “Drama Uber” ya baru awal April 2017. Tahunya ketika teman kerja yang sebangku dengan saya (Mbak Ayu) sering banget tuh buka twitter yang berisi drama uber, trus dia ketawa-ketiwi sendiri gitu. Dari situlah rasa penasaran binti kepo bangettt mulai menyeruak. Apa sih drama uber?. *baca-baca twitternya* habis itu nemu yang beginian:

DR

Seketika otak saya berputar: beneran gak sih? ada yang keg gini? dan lain sebagainya. Setelah saya baca berjama’ah drama uber sama Mbak Ayu, tiba-tiba dia mulai cerita pengalamannya bersama uber dan bisa banget tuh dijadiin drama uber.

πŸ‘©β€ : Mbak Ayu

πŸ‘§πŸ» : Saya

________________________Β Β  ________________________Β Β Β  ________________________

πŸ‘©β€ : Aku pernah drama uber juga, dia ngesave nomorku trus ngeWA aku.

πŸ‘§πŸ» : Nge-WA gimana mbak?

πŸ‘©β€ : Ya ngajakin kenalan gitu, akeh koen. Dia nanya aku kerja dimana?, kerjaannya ngapain aja?. Padahal aku cuma mesenin uber buat temennya bapakku loh.

πŸ‘§πŸ» : Kamu jawab apa mbak? Trus kamu tahu orangnya kayak gimana?

πŸ‘©β€ : Tak bujuki, aku ngomong kerja sama Bu Risma jadi ajudannya. Pas dia nanya kerjanya ngapain aja, aku bilang ya nemenin Bu Risma kalo ada acara-acara gitu. Pernah aku ditanyain lagi ngapain?, tak jawab habis nemenin Bu Risma kunjungan.

πŸ‘§πŸ» : *Ngakak..*

πŸ‘©β€ : *utek-utek henpon* Nih chatnya masih aku simpen, baca aja. *nyodorin henpon*

πŸ‘§πŸ» : *baca chat dengan serius binti khusyuk*

πŸ‘©β€ : Sumpah garing banget, guyonane iku gak lucu pisan. Ganteng sih tapi yokopo ngono, ilfil koen nang awal. Aku sempet ragu pas lihat dp WA nya, tenan gak sih? ojok-ojok iku bujukan dan jipuk nang google opo fb orang gitu. Mari ngono aku disuruh et ig nya dia. Kamu tahu nama ig nya apa?.

πŸ‘§πŸ» : *geleng-geleng kepala* Apa?

πŸ‘©β€ : Mawar berduri

πŸ‘§πŸ» : *histeris* SSSUUUMMMPPPAHHHHH???

πŸ‘©β€ : *angguk-angguk*

*langsung ngekek guling-guling di pasir secara berjama’ah*

πŸ‘©β€ : Koncoku lanang sing tak kongkon et ig ne dan tenan iku arek.e, foto asline.. Cakkk.. sumpah iku drama uber bangetΒ  *nunjukin poto* Nih orangnya

πŸ‘§πŸ» : Ganteng sih mbak tapi alay bin garing keg kripik tempe ‘kriukk’ hahahaaa.. Sampe sekarang masih chat-chatan?

πŸ‘©β€ : Gaklah.. aku udah ilfil di awal

Menurut saya itu lucu dan sempat terlintas sejenak dipikiran: gimana kalo saya yang ngalamin begitu?? Rasanya gimana yah??? 🐰🐰

Teman di kala sepimu

image

Ah.. ngomongin soal patah hati terhebat, ada sih salah satu peristiwa yang ngena banget sampe sekarang. Awalnya aku gak kenal sama dia, sebut aja Mas Raka. Tapi aku sering banget denger nama Mas Raka disebut-sebut sama beberapa teman wanita yang memang sudah lama kerja di kantorku.

“Raka itu dulu idaman wanita di sini lho..” kata Mbak Titan.

“Kamu masuk sini masih ada Raka nggak sih?” tanya Mbak Zia.

Aku menggeleng “Gak pernah tahu yang namanya Raka” jawabku sambil sibuk menikmati semangkuk bakso.

“Yah.. sayang banget gak tahu Si Raka, dia angkatannya Omar” ucap Mbak Zia.

“Emang Raka sekarang di mana?” tanyaku yang hanya sekedar basa-basi.

“Sekarang dia udah keterima di PGN itu loh Perusahaan Gas Negara. Denger-denger sih gajinya banyak” jawab Mbak Titan.

Aku cuma mengangguk-angguk.

Seiring berjalannya waktu, tanpa disangka-sangka aku ketemu sama Raka. Kebetulan hari sabtu ada acara jengukin orang sakit dan Raka ini diajakin ikut sama Mas Wahyu. Rombongan kami 6 orang yang di dalamnya ada aku. So, akhirnya kenalan deh. Beberapa hari kemudian, Si Raka sering dateng ke kantor kalo malem. Karna di kantor lagi ada acara ngelembur dan cuma sedikit teman-teman yang lembur, jadi dia berani dateng ke kantor.

“Woy sob, tumben dateng ke kantor” ucap Mas Omar.

“Yoi bro, aku kan mau minta film” jawab Raka.

“Oh ternyata ada maunya..” timpal Mas Alvi.

Raka cuma tertawa. Kemudian dia mulai menyalami beberapa orang yang ada di situ, termasuk aku.

“Udah kenal belum sama dia?” tanya Mas Omar ke Raka sambil nunjuk aku.

“Udah” jawab Raka “Namanya Fany kan?” lanjutnya dengan raut wajah yang minta diyakinkan kalo dia gak lupa nama.

Aku hanya mengangguk sambil mengulum senyum lihat raut wajahnya yang lucu. 

“Ciyeeee…” seru teman-teman lain. Biasalah wkkk..

Entah siapa yang memulai duluan, pertama kali kami kontak-kontakan melalui inbox facebook kemudian merambah ke bbm. Akhirnya dia nanya-nanya soal pacarku, ya aku bilang kalo aku ini jomblo. Terus dia mulai tanya sejak kapan putus? Kenapa putusnya? dan terjadilah obrolan yang panjang, hingga kami saling tahu satu sama lain. Raka juga suka sama kucing, kami juga sempat bahas kucing. Apa aja deh dibahas, pokoknya sama Raka ini nyambung. Buat aku jadi diri sendiri, apa adanya. Tapi aku belum ada rasa sama dia.

Suatu ketika Raka nelpon aku, ngajakin makan malam dan untuk pertama kalinya kami pergi berdua. Awalnya takut, tapi dia berhasil meyakinkan aku. Sejauh ini yang aku tahu tentang Raka, dia orangnya asyik banget dan bisa nyambung kalo sama dia. Selain itu, Raka nggak pernah ngajakin aku pulang malem. Pasti selesai makan langsung diajakin muter bentar biar aku tahu jalan karna aku anak rantau yang belum tahu jalan, jadi dia pasti nunjukin arah dan nama jalannya. Baru deh nganter pulang ke kost, jam 9 tet aku udah leha-leha di kasur.

Raka sering banget nelpon aku yang ujung-unjungnya ngajakin makan malam. Pernah, tiba-tiba dia udah ada di depan kost yang buat aku kaget setengah mati. Adalagi kejadian saat salah satu kebutuhan bulananku habis yaitu hit (Emm.. hit ini fungsinya buat ngusir kecoa yang sering masuk ke kamar tanpa diundang dan aku ini anti kecoa. Liat dia udah kejer-kejer), dia ngajakin aku makan malam dan aku bilang sama Raka nanti pulangnya mampir bentar ke indomaret atau alfamart. Setelah makan, kami nyari-nyari dan ketemulah sama alfamart. Aku ambil hit, camilan taro, obat capek, yuppi (yang permen favorit abis) dan cimory. Sedangkan Si Raka ngambil camilan banyak banget. Pas di kasir aku mau bayar sendiri eh dia ngelarang aku.

“Emang udah gajian? Kok mau bayar sendiri?” tanyanya penuh selidik.

“Belum mas” jawabku.

“Mbak, jadiin satu aja sama yang ini” katanya pada kasir.

“Mas, aku bayar sendiri aja. Aku masih punya simpenan kok”

“Gak usah, disimpen aja uangnya” ucapnya sambil melihatku. Di sana aku menemukan sirat ketulusan dan gak dibuat-buat. Tapi aku bwlum yakin sama apa yang aku temukan itu. “Yuk kita pulang, udah malem” lanjutnya sambil bukain pintu alfamart.

“Mas, aku ganti berapa?” tanyaku lagi karna aku benar-benar merasa sungkan, gak enak. Masa iya makan malam udah dibayarin, kebutuhan juga dibeliin, padahal statusnya belum siapa-siapa. Ntar dikira aku matre lagi, kan repot.

“Gak tahu berapa. Notanya udah kebuang” jawabnya sambil meremas-remas nota dan secepat kilat membuangnya ke sampah yang berada di samping dia berdiri.

Aku cuma bisa mlongo lihat aksinya. Baru ini aku menemukan pria seperti dia. Baiklah dengan perasaan sungkan, aku dianterin pulang sama dia.

image

Ini camilan plus hit yang Raka beliin

Eh sampe di kost, aku baru sadar pas bongkar belanjaan yang kerasa berat banget. Perasaan aku ngambil cuma dikit tapi kenapa jadi banyak? Kelakuan Si Raka nih. Gerutuku dalam hati. Kemudian aku bbm dia, kalo camilannya ketinggalan dan dia bilang itu buat kamu. Udah, dimakan aja. Tuhkan.. Rakaaaaaa..

Esoknya, aku di bbm sama Raka.
R: Mau acara ke mana?
A: Mau cari-cari kost. Pengen pindah ke tempat yang lebih nyaman.
R: Gimana kalo besok siang aja?  Aku hari ini ada meeting di kantor. Gak bisa anterin. Besok aja yaaa.. paginya kita mancing dulu sama teman-teman kantorku trus pulang mancing baru deh cari kost.

Busett dah anak ini penuh kejutan banget. Aku gak minta dianter, dia nawarin diri. Ditambah ngajakin mancing pula bareng teman-temannya. Batinku.

A: Iya deh

Oke, besok paginya di hari Minggu. Kami sempat mampir ke indomart buat beli camilan dan minuman buat teman-teman juga sebelum berangkat. Mancing pun terlaksana, aku gak pernah lho mancing dan baru kali ini. Itu pun diajakin Raka. Dia telaten buat ngajarin aku ngatur umpannya di kail, trus ngelempar alat pancingnya dan nunggu sampai dapet ikan. Pas dapet ikan, aku gak tahu gimana nariknya dengan sigap Si Raka beraksi dan jreng.. jreng.. ikannya ketangkep trus dimasukkin dia ke jaring yang tersedia.

Habis mancing, ikannya di bakar dan dimakan rame-rame. Jam menunjukkan pukul 12.00, Raka ngajakin shalat di mushala dekat pemancingan. Habis selesai baru deh pamit pulang buat cari kost.

Kami muter-muter dan masukin rumah kost satu persatu, nanyain harga serta fasilitas yang didapat. Mungkin ada sekitar 4 rumah kost yang udah dilihat-lihat. Tepat pukul 15.00, Raka berhenti di depan mushala.

“Shalat dulu yuk, ntar baru cari lagi” ajaknya

Aku mengangguk. 

Selesai shalat aku lihat Raka yang duduk di luar dari balik jendela mushala, dari sini aku mulai mikir keras. Hmm.. jarak kost dia sama kost aku tergolong lumayan jauh, tapi dia tiap malam belain buat makan malam sama aku? Dia belain luangin waktu, muter-muter cari kost buat aku? Gak peduli panas, keringetan dan  haus. Apa dia suka? Ah, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Dia belum ada omongan apa-apa. Ujar logikaku. Tapi lihat deh dari cara dia perlakuin kamu. Timpal hatiku. Kini hati dan logika saling beradu. Sedikit flashback, aku benar-benar yakin kalo dia itu tulus, nggak minta imbalan apapun. Bahkan mengungkit-ungkit sesuatu yang udah dia kasih.

Entah kita nanti akan berakhir seperti apa yang jelas aku menikmati setiap prosesnya dan cara-cara sederhanamu yang kecil dan terkadang mengejutkan mampu membuatku merasa diistimewakan. Awalnya aku tidak tahu kepada siapa hati ini akan dijatuh cintakan lagi, namun kali ini aku baru sadar kalau aku menjatuhkan hati padamu. Pada kamu yang membuatku nyaman ketika berada di sampingmu. Padamu yang membuat hariku berwarna. Karnamu aku mengerti bahwa cinta itu datang dengan cara yang sederhana – Fany, 2016.

Aku keluar dari mushala dan menghampirinya.

“Mas, udahan aja cari kostnya. Aku takut kamu nanti kecapekan” kataku.

“Gak kok, 2 kali lagi deh nyarinya hehe.. yuk berangkat”

Setelah 2 kali cari rumah kost, aku punya 6 refrensi dan bisa menimbang-nimbang mana yang bagus.

“Kayaknya yang rumah ke 3, 5, dan 6 rekomen deh” kata Raka di dalam perjalanan pulang.

“Iya mas, tapi apa gak terlalu jauh dari kantor?” tanyaku.

“Enggak, nanti kan ada aku” ucapnya sambil ketawa.

Hariku kini benar-benar terisi dengan Raka, mungkin ini namanya pendekatan. Ketika aku sudah siap untuk jatuh cinta lagi dan membuka hati, badai itu datang. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Raka secara perlahan mulai menjauh. Chatting hanya beberapa minggu sekali dan hanya singkat-singkat, nggak seperti dulu. Dia sedikit berubah. Aku yang merasa udah dibuat nyaman jadi mikir ulang.

Apa aku ini teman di kala sepimu?.

Kata itulah yang aku tulis di status facebook. Tak lama kemudian, Raka komen. Maaf, katanya.

Maaf untuk apa? tanyaku.

Untuk semua.. kalau ada hal yang nggak berkenan di hati. Balasnya.

Benar, badai telah datang. Beberapa bulan kemudian kurang lebih 3 bulan lamanya, Raka menghilang nggak ada kabar, chatting, ketawa-ketiwi, dan makan malam seperti biasanya. Dia benar-benar hilang tertelan bumi. Aku sering menunggu chattingnya, namun itu tidak terjadi.

Harusnya, aku menyapamu lebih dulu. Mungkin di hari itu, hari terakhir saat kita bersama.. Aku seharusnya mengakui rasa nyamanku ketika di sampingmu. Tapi rasa gengsiku lebih besar, aku terkalahkan olehnya. Aku malu, Raka..

Selang beberapa hari, Raka bikin status bbm dengan emoticon hati (❀) dan foto profilnya diganti seorang wanita yang juga memakai jilbab dan tangan kirinya menggunakan jam tangan pink. Sayang, wajahnya sengaja nggak dilihatin. Stoppp! Ini cerita akhirku sama Raka, mungkin dia sudah menemukan sosok wanita yang dia inginkan dan itu gak ada atau mungkin nggak dia temukan pada diriku. Kamu tanya gimana rasanya hatiku? Diawal pendekatan? Di saat aku sudah merasa nyaman, saat aku sudah menjatuh cintakan hati namun hanya dijadikan teman di kala sepi? Haha..

Ah kau benar, pria memang pandai memilih. Sementara wanita? Dia hanya bisa menunggu.. menunggu.. dan menunggu hingga hatinya hancur secara perlahan-lahan dengan sendirinya sampai tidak merasakan apapun.

Setelah kejadian itu, aku takut untuk menjatuh cintakan hatiku lagi. Aku takut jika dijatuh cintakan pada orang yang salah. Aku takut merasakan sakit berkepanjangan untuk kesekian kalinya. So, kini aku putuskan untuk menunggu seseorang yang nantinya tak ada ragu dan benar-benar memperjuangkanku, memperjuangkan KITA bersama. Untuk jadi lebih baik bersama-sama.

Untuk kalian, jangan terburu-buru memakai hati atau bahkan mudah menjatuh cintakan hati. Belum tentu orang yang kamu jatuh cintakan itu merasakan hal yang sama, selidikilah lebih dulu. Secara perlahan namun pasti dan belajarlah kalian pada pengalaman-pengalaman sebelumnya atau mungkin pengalaman orang lain. Koreksi lebih lanjut apa yang salah, apa yang pantas, apa yang seharusnya diperbaiki dan apa yang wajib dipertahankan.

Memang, kita tak pernah tahu kapan cinta itu akan datang.. pada siapa kita akan dijatuh cintakan dan cinta slalu datang dengan cara yang sederhana. Tapi berhati-hatilah.

Surat untuk Raka:

Dear Raka,

Terimakasih sudah hadir di kehidupanku walau hanya cerita singkat, tapi kamu sudah berhasil membuat hariku berwarna. Kamu sudah membuatku banyak belajar tentang kehidupan, tentang kenyamanan, dan tentang pria.

Raka, maafkan aku yang sudah menaruh perasaan lebih terhadapmu tanpa bertanya atau memastikannya lebih dulu. Kini, aku hanya bisa berdoa semoga kamu slalu diberikan kebahagiaan oleh Sang Pencipta di dalam hari-harimu bersama dia yang sekarang telah bersamamu dan  mendampingimu.

    From: orang yang pernah nyaman bersamamu

Sampai saat ini hubunganku dan Raka masih renggang, nggak pernah chattingan lagi. Tapi terakhir kali aku chat Raka tepat di hari ulang tahunnya tanggal 28 Agustus 2016 dan cuma ngucapin selamat ulang tahun aja. Setelah itu lost kontak. Buka apa-apa, aku cuma jaga perasaan pacarnya. Sakit itu sudah hilang seiring berjalannya waktu, namun kenangan dan kenyamanannya masih melekat serta tercetak jelas di setiap perjalananku.

*** Cukup sekian tulisan pengalaman dari saya, semoga bermanfaat. Oh ya, lupa menyampaikan kalo nama dan tempat saya samarkan karna tidak mau terjadi kericuhan hehe.. Mohon pengertian dari saudara-saudara sekalian, wkkk ***

*** Terimakasih kuis romeo dan gagas media yang sudah membuatku mengingat lagi sedikit kilasan memori indah ***

Prolog

Menunggu seseorang yang dicinta adalah salah satu hal terkejam dari beberapa hal yang dibenci wanita di dunia. Tidak ada pernyataan, tidak ada kepastian, dan juga tidak ada tindakan.

Selain menunggu, ada pula hal yang diberi nama kenyataan. Betapa pahit atau manisnya sebuah kenyataan, haruslah diterima dengan lapang dada.

Tidak bisakah seorang wanita mengesampingkan gengsinya? Untuk menyatakan perasaan terdalamnya?

Dan tidak bisakah seorang pria menerima sedikit sebuah pernyataan cinta dari seorang wanita, sekalipun dia mencintainya ataupun tidak tanpa menganggapnya sebagai wanita murahan atau wanita obralan?

Ah kau benar, pria memang pandai memilih. Sementara wanita? Dia hanya bisa menunggu.. menunggu.. dan menunggu hingga hatinya hancur secara perlahan-lahan dengan sendirinya sampai tidak merasakan apapun.

Hanya bisa menolak datangnya cinta yang lain karna hatinya tidak pernah memiliki cinta pada lainnya. Selain orang yang benar-benar didamba dan ingin dimilikinya.

Kalau boleh, aku ingin mengatakannya sekali saja..

Kalau boleh, aku ingin melihatnya melihatku dengan hati sekali saja..

Kalau boleh, aku ingin memeluknya dan menggenggam tangannya untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebelum aku benar-benar hancur, sebelum aku benar-benar pergi jauh, dan sebelum aku benar-benar melupakannya..

Kalau boleh salah satunya, maka setelah itu akan kupersilahkan engkau. Silahkan membenci, menjauhi, melupakanku bahkan menganggap semuanya tidak pernah terjadi atau silahkan jika pada akhirnya kau akan mencintaiku.

***Voila! Ini prolog saya di wattpad, let me know what you think yaaa***

Makasih buat Mas B yang udah jadi inspirasiku buat nulis cerita Je t’attend encore 😊😊 minta doanya semoga cerita ini bisa selesai dan segera dinikmati oleh para readers.

Damn, I like ur smile!

khj3

Ya mirip-mirip senyummu lah ^^

Kamu tahu, sejak pertama aku jumpa kamu?

Aku belum suka.

Terus, kenalan sama kamu?

Aku belum suka juga.

Sedetik, Dua menit, Tiga jam, Sehari?

Hmm.. Aku mulai suka dikit pas kamu senyum!

 

Klise sih suka sama senyum orang,

Tapi beneran kok aku suka!

Oh ya, aku gak tahu loh

Bisa tiba-tiba sefamiliar gitu sama kamu,

Kayak pernah kenal,

Kayak pernah ketemu gitu

Aku inget-inget lagi,

Asli aku gak inget haha..

Setelah amnesia yang cukup panjang,

Aku menyimpulkan itu awal mula kita ketemu dan kenal, hehe

Udah ah, jadi malu..

Kamu, tetep aja senyum

Aku gak bosen kok sama senyummu

Iya, gak bosen

Tapi gak tahu kalo ntar pas maghrib!